Sabtu, 25 November 2017

ENVIRO PETA

ONE MAP?
                Indonesia merupakan negara yang begitu amat luas. Terdapat banyak pulau yang terpencar di negara ini. Bahkan saking banyaknya, jumlah pulau di Indonesia belum dapat dipastikan dengan baik.
                Dikutip dari Kompasiana.com, terdapat berbagai macam hasil survey yang menunjukkan hasil jumlah pulau di Indonesia dalam tahun yang berbeda-beda. Pada tahun 1972, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menunjukan bahwa ada 6.127 pulau pada tahun 1972. Kemudian Pusat Survei dan Pemetaan ABRI menyatakan jumlah pulau ada 17.504 pada tahun 1987. Lalu Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional menyatakan ada 6.489 pulau pada tahun 1992. Lalu Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menyebutkan ada 18.306 pulau pada tahun 2002. Kementrian risen dan teknologi menyebutkan ada 18.110 pulau pada tahun 2003. Kemudian yang terakhir, Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia menyebutkan ada 17.504 pulau pada tahun 2004.
                Betapa anehnya perbedaan-perbedaan jumlah pulau di Indonesia pada perhitungan setiap tahunnya. Ini menunjukan bahwa saking banyaknya, hingga hasil setiap perhitungan tidaklah dapat muncul secara konsisten. Begitu pula juga dengan batasan-batasan kepemilikan di berbagai daerah Indonesia.
                Tidak sedikit daerah-daerah di Indonesia yang dimana batasan kepemilikan lahan, terjadi sebuah timpang tindih. Maksudnya adalah, terkadang beberapa meter dari perbatasan daerah, itu tidak jelas dimana batasnya. Sehingga sering terjadi konflik antara kedua pihak pemilik lahan, bahwa sebenarnya sekian meter atau hektar dari lahan tersebut adalah milik siapa, dan siapa yang berhak untuk mengelola lahan tersebut.
                Hal ini menyebabkan adanya permasalahan yang kecil namun bisa menjadi besar bila sudah mengikut campurkan warga setempat. Tentunya pemerintah juga harus mampu tegas untuk menegaskan keadilan tentang peraturan hak penggunaan lahan seperti ini.  Karena, sering juga ketika ada masalah yang terjadi di lahan yang ‘diperebutkan’ itu, justru biasanya terjadi saling lempar tanggung jawab terhadap kedua pihak yang tadinya berebut tersebut.
                Pulau Kaliamantan merupakan salah satu pulau Indonesia yang banyak terdapat permasalahan ini. Namun berdasarkan narasumber dari World Research Institute (WRI) Indonesia, Adi Pradana, beliau mengatakan bahwa permasalah hak pengelolaan lahan di Kalimantan sudah selesai. Lalu mereka mulai ingin mengatasi permasalahn ini di pulau-pulau Indonesia ynag lainnya seperti Sumatra, Sulawesi atau Jawa.

                

Jumat, 17 November 2017

ENVIRO - CLIMATE CHANGE

CLIMATE CHANGE
                Sejak usia dini, sering kita dengar yang namanya Global Warming atau Pemanasan Global. Seperti pada umumnya, arti dari pemanasan global yang kita tahu adalah terjadinya kenaikkan suhu bumi secara global atau menyeluruh. Hampir setiap orang tahu akan adanya isu ini, dan juga hampir semua orang tahu bahwa hal ini harus dicegah demi menjaga kelestarian alam, termasuk manusia itu sendiri. Namun tak banyak orang yang mau perduli dan melakukan aksi demi mencegah pemanasan global ini. Manusia cenderung lebih memilih hidup sementara namun bahagia dengan kekayaan harta yang mereka miliki. Daripada hidup dan tinggal di bumi ini lebih lama namun harus bersusah payah untuk membatasi berbagai macam hal.
                Dampak yang terjadi akibat pemanasan global ini sungguh luar biasa ketika dilihat secara teliti. Kebakaran hutan, kekeringan, kutub es mencair dan masih banyak lagi. Dan dampak-dampak yang telah terjadi tersebut mengakibatkan adanya perubahan pada iklim di bumi ini. Pengertian dari kata iklim sendiri adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan jangka waktu yang panjang. Lain dengan cuaca yang biasanya diartikan untuk menggambar kondisi langit atau suhu udara pada saat itu saja.
                Maka dari itu, munculah istilah baru yang menggantikan istilah Global Warming, yaitu Climate Change. Memang pada dasarnya sama saja, namun Climate Change tidak hanya mengartikan bahwa bumi mengalami kenaikkan suhu semata. Namun bumi juga mengalami perubahan-perubahan besar yang berdampak langsung kepada manusia. Padahal kita semua tahu apa penyebab utama terjadinya climat change? Ya, kita sendiri, manusia.
                Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang saya berani katakan hampir sempurna. Kenapa? Apa yang tidak bisa dilakukan manusia? Manusia bisa meraih atau menciptakan apa saja yang mereka mau. Perkembangan teknologi semakin pesat dan bombastis. Namun, manusia kurang memiliki rasa empati terhadap sesama makhluk hidup, dalam kasus ini mari kita sebut alam. Manusia mampu membuat kendaraan bermotor demi kepentingan mereka. Berbagai macam kendaraan bermotor seperti motor dan mobil, diciptakan dari harga mahal sampai ke murah. Sekarang bayangkan berapa banyak manusia yang membeli kendaraan murah-murah ini. Berapa banyak karbon dioksida yang di keluarkan melalui knalpot motor atau mobil itu setiap hari?
                Pernahkah anda pergi naik motor, kemudian anda terjebak macet? Lalu apa yang anda rasakan ketika anda membuka kaca helm anda? Atau apa yang anda rasakan pada punggung tangan anda bila anda tidak mengenakan sarung tangan? Panas bukan? Apakah nafas anda menjadi tidak bebas? Ya tentu. Hal itu saya yakini karena banyaknya gas karbon hasil pembakaran mesin yang ada disekitar anda. Lalu apakah sekarang sudah banyak motor dan mobil yang ramah lingkungan? Memang iya benar, namun bila jumlah mereka tetap semakin banyak setiap tahunnya. Apakah jumlah karbon dioksida yang dihasilkan ketika kendaraan ramah lingkungan tersebut bisa dikatakan berkurang ketika di tengah kemacetan. Bagi saya tetap saja.
                Hal ini yang terkadang membuat saya dilema. Saya tahu salah satu cara ampuh untuk mencegah terusnya berlangsung perubahan iklim, yaitu dengan mengurangi jumlah kendaraan yang beraktifitas demi mengurangi polusi. Namun, disaat yang sama saya membutuhkan kendaraan pribadi untuk mecapai tujuan saya, kemana pun itu.
                Gas-gas yang kemudian naik ke atas langit itu kemudian membuat suhu di atas langit menjadi panas, ini merupakan salah satu penyebab terjadinya penipisan lapisan ozon. Lapisan Ozon adalah lapisan yang bertugas untuk menyaring atau menyerap panasnya sinar Ultra Violet (UV) yang dipancarkan oleh matahari. Namun, seperti yang sudah terjadi sekarang. Lapisan Ozon di atas bumi ini sudah menipis, diakibatkan dari banyaknya gas yang naik ke atas, dan juga efek pantulan sinar matahari yang memantul dari rumah-rumah kaca. Oleh sebab itu, suhu di permukaan bumi sendiri sudah mengalami kenaikkan.
                Berdasarkan data yang saya dapat dari World Resources Institute (WRI) Indonesia, kenaikan rata-rata suhu bumi secara global pada 9 bulan pertama pada tahun 2015 sudah mencapai 1,05 derajat Celcius. Kenaikan ini baru terjadi sejak tahun 1950. Dan pada tahun 2016 kenaikkan suhu bumi sudah mencapai 2 derajat celcius.
                Secara nominal, angka “2” memang tidaklah banyak. Namun dampak yang sudah terjadi di bumi ini bisa dibilang luar biasa. Seperti yang pada umumnya orang tahu, bahwa es kutub utara dan selatan sedang terus mengalami pencairan. Sudah berapa banyak es yang telah mencair menjadi air dan kemudian mengalir ke laut? Bila kutub es ini terus mencair, maka permukaan air laut akan meningkat. Itulah sebabnya, beberapa daerah di dunia ini yang tadinya tidak pernah terkena banjir, kemudian tiba-tiba saja terkena banjir. Banjir ini terjadi juga didukung oleh kurangnya daya serap air di lingkungan tersebut. Akibat adanya deforestasi atau perubahan hutan untuk lahan pertanian atau yang lainnya. Penebangan hutan untuk digunakan sebagai lahan pertambangan.

                Bayangkan betapa rusaknya ekosistem di bumi ini. Apa yang telah saya gambarkan di atas hanya lah sebagian kecil dari apa yang terjadi di bumi ini. Apakah Climate Change dapat di cegah? Hanya kita yang bisa memutuskan.

Sabtu, 11 November 2017

ENVIRO IAR


Perlindungan Orang Utan
                Manusia merupakan makhluk yang memiliki segalanya untuk memperoleh kehidupan yang baik. Mereka dikaruniai akal, pikiran, jiwa dan raga yang membantu mereka untuk melakukan segala hal. Termasuk juga menciptakan sesuatu atau membangun sesuatu. Demi kemamkmuran kehidupan mereka, manusia dengan gencar membangun lingkungan hidup yang dapat mereka tinggali dengan nyaman. Seperti pembuatan perumahan, apartemen, jalan raya, dan lainnya. Pembangunan-pembangunan tersebut tentu membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Maka dari itu manusia kerap mengubah hutan-hutan yang ada di sekitar mereka untuk mereka ubah menjadi tempat yang mereka bisa gunakan. Tetapi ketika mereka menebangi hutan-hutan tersebut, mereka lupa dengan binatang-binatang yang tinggal di sana. Salah satunya yang akan saya bahas disini adalah Orang Utan.
                Tidak sedikit Orang Utang yang ketakutan, kelaparan, stres, dan mati, karena mereka tidak punya tempat tinggal. Jelas, karena tempat tinggal mereka di hancurkan oleh kita, manusia. Manusia kerap menggunakan hutan-hutan yang masih utuh untuk dijadikan lahan bisnis. Lahan bisnis yang saya maksud antara lain adalah, Illegal Logging atau penebangan liar, Illegal Minning atau penambangan liar, Forest Conversion dan pembakaran hutan secara liar.
                Semua kegiatan-kegiatan tersebut berakibat kepada hewan yang eksistensinya terancam ini. Banyak dari mereka yang berlarian tak terarah dan terpisah dari keluarganya, ketika rumah mereka ‘dijajah’ oleh manusia. Ketika mereka berpencar, banyak dari mereka yang pada akhirnya di temukan oleh manusia dan di ‘pelihara’. Namun tidak dengan cara yang layak. Banyak Orang Utan yang memang sudah stres dan akhirnya mereka di rantai dan dikandangi oleh orang yang menemukan mereka. Namun sepertinya, tidak semua manusia yang menemukan mereka ini paham betul bagaimana caranya memperlakukan Orang Utan yang stres tersebut dengan baik. Alhasil malah membuat Orang Utan tersebut semakin stres.
              Tak jarang juga Orang Utang yang tidak dapat bertahan hidup karena tidak memiliki rumah. Sehingga mereka kesulitan ketika hendak mencari makan dan memperoleh kembali kehidupan mereka yang semula. Berdasarkan data yang saya dapat dari Yayasan “International Animal Rescue” Indonesia, setelah terjadinya pembakaran hutan secara liar di Borneo. Terdapat 44 Orang Utan yang untungnya berhasil diselamatkan.
             Banyak juga Orang Utan yang berhasil ditemukan dan kemudian diselamatkan oleh tim dari IAR Indonesia tersebut. Beberapa dari mereka ditemukan dalam kondisi stres, suka membanting tubuhnya ke lantai dan merupakan korban dari pertukaran illegal Orang Utan. Kemudian ada juga yang ditemukan dalam kondisi diikat atau dirantai dan kurung di dalam kandang, juga terdapat luka di sekitar lehernya karena sering tergesek oleh rantai di lehernya. Ada juga yang bahkan di rantai diluar dan tidak diberikan perlindungan apapun, sehingga sering terkena panas matahari dan juga dinginnya hujan. Ada juga yang ditemukan ketika masih kecil dan dalam kondisi menangis. Di duga ibunya sudah mati. Karena jika ada ada anak Orang Utang yang ditemukan sendirian, bisa dipastikan ibunya sudah mati. Entah mati sendiri alias kelaparan, atau dibunuh oleh manusia.
           Orang Utan yang telah berhasil diselamatkan, tentunya akan diperiksa kesehatannya terlebih dahulu. Mereka biasanya di karantina selama 8 minggu. Selama dikarantina, mereka akan melalui dua kali tes untuk memastikan bahwa mereka terbebas dari Patogen. Bila masing-masing dari mereka ada yang memiliki Patogen di dalam tubuhnya, mereka harus menjalani perawatan terlebih dahulu sebelum akhirnya diperbolehkan untuk bergabung dengan “Baby School of Forest School”.
           Selama masa perawatan, tidak kecil kemungkinana bahwa manusia yang merawat Orang Utan-Orang Utan ini mengalami kendala. Karena mereka pada umumnya pasti takut dengan adanya kehadiran manusia sehingga mereka bisa saja memberontak. Bahkan menggigit. Biasanya manusia menggunakan obat bius jika mereka sulit untuk dibawa ke kandang. Gigitan mereka bisa dibilang cukup keras. Setelah mereka pingsan, barulah bisa dibawa ke pusat rehabilitas. Dan juga, bila Orang Utan ini sudah bersembunyi di atas pepohonan, akan sulit bagi manusia untuk melacak keberadaan mereka. Karena mereka dapat bergerak diatas sana, namun dengan sangat halus sehingga daun-daun yang ada di atas pohon pun tidak akan terlihat bergerak.
        Ketika Orang Utan-Orang Utan ini sudah sekiranya bersih dan sehat dari penyakit. Mereka sudah bisa kembali dilepas di hutan. Namun sebelum benar-benar dilepas, mereka harus diyakinkan untuk benar-benar sekiranya dapat kembali bertahan hidup di alam liar atau di hutan. Biasanya IAR Indonesia melepas Orang Utan mereka di tiga tempat. Diantaranya adalah Bukit Baka Bukit Raya National Park, Gunung Palung National Park, dan Hutang Lindung Gunung Tarak.
        Berdasarkan data yang diberikan oleh IAR Indonesia, peertumbuhan jumlah individu Orang Utan yang mereka miliki pada tahun 2017 adalah sebanyak 112 individu. Dimana pada tahun 2009 hanya ada 12 individu. Itu artinya dalam waktu 10 tahun, jumlah individu Orang Utan bertambah sebanyak 100 individu. Angka cukup sedikit bila dilihat dari jarak waktu yang di patok. 

Jumat, 03 November 2017

ENVIRO BEFORE THE FLOOD

                Pernah dengar istilah Global Warming? Pasti pernah. Istilah ini telah sering didengar oleh masyarakat Indonesia sejak awal tahun 2000-an. Ketika itu saya masih sangat kecil. Namun saya telah mengetahui pada umumnya apa maksud dari kata Global Warming tersebut. Lalu apa itu Global Warming? Dan mengapa istilah tersebut sudah dikenal  oleh  saya yang sekarang berusia 19 tahun ini?
                Global warming adalah isu yang mengerikan bagi manusia. Karena dalam isu ini dikabarkan bahwa bumi mengalami kenaikan suhu. Tidak banyak, hanya 1 derajat Celcius. Memang angka yang berubah tidak signifikan. Tapi dapat mengakibatkan kerusakan, terutama pada bagian kutub es yang terus mencair karena perubahan suhu terus berlangsung lama.
                Kenapa hal ini bisa terjadi? Manusia hidup membutuhkan yang namanya bahan bakar untuk ala transportasi mereka. Mereka juga butuh listrik untuk membantu mereka membaca ketika malam hari. Lalu bagaimana mereka memperoleh bahan bakar minyak dan tenaga listrik tersebut? Manusia mengebor kulit luar bumi untuk mengambil minyak yang ada didalamnya. Batu bara digunakan untuk memperoleh tenaga listrik yang saat ini saya gunakan untuk membuat artikel ini, dan juga anda gunakan ketika membaca artikel ini. Namun semua itu menghasilkan CO2, yang pada akhirnya mengakibatkan terpolusinya udara.
                Tak hanya industri-industri itu saja yang menghasilkan CO2. Tapi dari knalpot motor atau mobil yang anda gunakan sehari-hari. Itu juga menghasilkan CO2 yang cukup banyak. Bayangkan berapa juta kendaraan bermotor yang ada di bumi ini. Dan berapa banyak CO2 yang dihasilkan oleh sekian banyaknya kendaraan-kendaraan tersebut ketika sedang diaktifkan. Jumlah yang tidak bisa dihitung oleh orang awam seperti kita.
                Kemudian, listrik. Berapa banyak batu bara yang dibakar untuk menghasilkan tenaga listrik yang setiap orang butuhkan ini? Berapa banyak karbondioksida yang ada di udara akibat dari asap pembakaran tersebut? Betapa kotornya udara di bumi saat ini. Tak hanya udara. Tapi sungai dan air laut juga sudah tercemar. Karena manusia juga menggunakan pasir minyak atau biasa disebut sebagai tar sands. Mereka mengekstrak pasir tersebut dan hanya mengambil minyaknya saja untuk mengisi tangki bensin kita sehari-hari.
                Mari kita beralih sedikit dari duni industri. Gedung-gedung kaca. Ya sering kali gedung-gedung kaca memantulkan sinar matahari kita. Tapi sesungguhnya, pantulan tersebut juga sampai ke lapisan ozon yang menjaga suhu bumi ini. Karena semakin terpantulnya sinar ultraviolet itu, menyebabkan suhu lapisan ozon juga semakin panas dan menipis. Ditambah juga hasil dari panasnya asap-asap industri dan jumlah CO2 yang dihasilkan tadi menyebabkan udara di atas bumi kita memanas dan mengakibatkan lapisan ozon menipis.
                Lalu apa yang terjadi bila lapisan ozon menipis? Tentunya suhu bumi akan terus naik. Karena tugas lapisan ozon adalah menjaga dan menyerap ultraviolet untuk masuk kedalam permukaan bumi. Dan menstabilkan suhu bumi itu sendiri. Jadi kalau panasnya sinar matahari tidak ada yang menyerap, otomatis pemukaan bumi akan terasa panas. Apakah bahaya bagi manusia? Tentu iya. Kulit manusia bila terus menerus ter-ekspos oleh sinar ultraviolet dalam terkena kanker kulit. Itu hanya dampak pada individu manusia itu sendiri. Bila bicara manusia dalam skala luas, manusia terancam untuk tidak memiliki tempat tinggal. Kenapa saya bilang begitu?
                Kutub es telah terus menerus mencair dan manusia sedang berusaha keras untuk membatasi pencairan es tersebut. Karena hal tersebut dapat menyebabkan naiknya permukaan air laut. Makanya jangan heran jika kita lihat, di beberapa negara di dunia ini sudah banyak yang setiap tahunnya mengalami bencana banjir. Hal tersebut terjadi karena juga didukung oleh kurangnya resapan air di daratan tersebut, yang biasanya sudah ditebangi untuk dijadikan lokasi perindustrian.
                Lalu bagaimana kita sebagai manusia mencegah perubahan iklim ini? Pada tahun 2015, diadakan Confention of Parties (COP) 21 di Paris, untuk menyeujui Paris Agreement. Kesepakatan ini diadakan demi tujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pasca 2020. Persetujuan ini telah disetujui oleh 195 negara, termasuk Indonesia dan Amerika.
                Namun, pada tahun 2017, presiden terpilih Amerika Serikat terbaru, Donald Trump menyatakan bahwa mereka (AS) menarik diri dari persetujuan Paris tersebut. Dikarenakan ia tidak percaya adanya perubahan iklim, dan juga pada awalnya ia menyatakan bahwa perjanjian tersebut merugikan Amerika. Ia memntia untuk dibuat perjanjian baru yang tidak begitu merugikan mereka. Tapi pada akhirnya ia menyatakan untuk mengundurkan diri dari perjanjian tersebut. Hal ini semakin mempersulit negara-negara lain di dunia ini untuk sama-sama mencegah perubahan iklim. Karena Amerika merupakan negara yang sangat produktif dan juga konsumtif terhadap bahan bakar. Lalu bagaimana bila salah satu negara yang menghasilkan polusi terbanyak memutuskan untuk menolak berkontribusi untuk mengurangi polusi?


Ayrell Fachrezy
00000026569

Kamis, 31 Agustus 2017

ENVIRO 1

          Pada akhir Desember 2015 lalu saya, Ayrell Fachrezy, dengan ayah saya, Tri Sulaksono, berlibur ke perbukitan Bumiayu yang terletak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tepatnya dibalik gunung Slamet. Pada awalnya kami hanya ingin touring ke kota Tegalnya saja dengan menggunakan motor secara ber-iringan. Namun setelah berangkat dari Tangerang sekitar jam 6 pagi, kemudian menempuh perjalanan sekitar 8 jam hingga sampai di Kota Tegalnya melalui jalur Pantura. Kami memutuskan untuk menginap di suatu hotel kecil yang berada di pinggir jalan bernama “Riez Palace Hotel” selama satu malam. Lalu pada malam harinya, ayah saya menelpon temannya yang bekerja di Universitas Politeknik Tegal, yang bangunan kampusnya merupakan hasil karya ayah saya. Beliau, Pak Erwadi, mengajak kami berdua untuk pergi berwisata ke tempat pemandian air panas guci yang juga berada di kaki gunung slamet.
          Keesokan harinya, sekitar pukul 7 kami ’check out’ dari hotel untuk kemudian menjemput Pak Erwadi di kediamannya yang tak jauh dari hotel yang kami tempati. Bila diperhitungkan kalau kota Tegal memang kota yang kecil, sehingga mau kemana-mana terasa dekat. Setibanya kami di rumahnya, kami sempat menetap dulu di sana sekitar 15 sampai 20 menit untuk mempersiapkan tenaga dan mental, sambil minum teh poci khas Tegal. Setelah siap, kami pun langsung berangkat. Pak Erwadi dibonceng oleh ayah saya karena motor ayah saya memiliki posisi yang lebih nyaman untuk boncengan dibanding motor saya yang berjenis sport. Sekitar pukul setengah 8 kami berjalan beriringan melewati jalur yang lingkungannya bagi saya jarang sekali saya temui. Mengingat selama tumbuh besar waktu saya banyak dihabiskan hanya disekitar Tangerang atau Jakarta saja. Perjalanan terasa lebih asyik karena kami naik motor. Entah mengapa dengan naik motor ada sesuatu yang membuat saya bisa lebih menikmati perjalanan dibandingkan naik mobil. Bagi saya naik mobil itu justru jauh lebih melelahkan.
          Mengingat belum sarapan, kami pun berhenti di sebuah rumah makan yang direkomendasikan Pak Erwadi. Rumah makan itu menghidangkan menu andalannya yaitu “Kepala Ikan Manyung”. Tentu kami tidak mau kehilangan kesempatan untuk mencobanya sehingga kami memesan masing-masing satu. Tak lupa juga menu “Cah Kangkung” yang sudah menjadi favorit keluarga saya. Setelah perut terisi sebagai sumber dan cadangan tenaga untuk beberapa jam kedepan, kami pun melanjutkan perjalanan. Melewati perdesaan, pasar-pasar daerah, kemudian sawah-sawah. Dari sana sudah mulai terlihat di kejauhan mata memandang, terlihat gunung slamet yang masih samar-samar terhalang oleh kabut dan awan.
          Setelah sekitar 2 sampai 3 jam perjalanan, kami tiba di pintu gerbang tempat wisata tersebut. Namun dari sana masih ada sekitar 10 kilometer lagi untuk sampai ke tempat penginapannya. Kami melewati jalan yang hanya bisa dilalui 1 mobil dan 1 motor, sehingga agak repot bila ada 2 mobil berpapasan. Namun untungnya kami menggunakan motor sehingga lebih lincah melewati jalan sempit dan juga berliku-liku, plus naik turun pula. Tak juga sepanjang perjalanan, telinga terasa ‘budeg’ karena tekanan udara yang berbeda ketika jalan naik.
          Kami pun tiba di wilayah penginapan di sana. Kami berhenti dulu di satu masjid untuk beristirahat sambil menunggu waktu sholat Dzuhur. Setelah waktu Dzuhur datang, ayah saya pun mengambil air wudhu. “Airnya dingin...” ucapnya mengingat air ini murni berasal  dari pegunungan dan juga suhu udara disana yang masih bersih. Kami bergantian melaksanakan sholat karena salah satu dari kami harusada yang mengawasi barang-barang bawaan.
          Setelah selesai melaksanakan sholat, kami memutuskan untuk tidak hanya berhenti di sana lalu menikmati pemandangan dari kaki gunung. Kami memutuskan untuk naik keatas puncak menggunakan motor kami untuk melihat gunung slamte itu dari jarak yang lebih dekat. Kami melewati jalur yang terbuat dari bebatuan yang tersusun secara tidak rata. Sungguh pegal rasanya tangan ini mengendarai motor sport untuk naik bukit. Tengok ke kiri sedikit sudah jurang. Pada hari itu saya, ayah saya, dan temannya, bisa di bilang menantang maut. Bila ban kami tergelincir saja, sudah selesai semua urusan.
          Lalu kami sempat berhenti sejenak di satu pos disana. Untuk istirahat sejenak dan menikmati pemandangan untuk sementara. Lalu ada seorang petugas yang bekerja di perbukitan sana. Ayah saya dan Pak Erwadi sempat mengobrol dengannya menggunakan bahasa Jawa yang saya tidak mengerti. Kemudian ternyata ia memberitahu kalau di tempat kita berhenti itu belumlah puncak satu alias puncak paling tinggi di bukit itu. “Puncak yang paling tinggi masih di sana, puncak satu” ungkapnya kepada kami.
          Kamipun kembali menyarter motor kami, lalu tancap gas untuk naik ke puncak satu. “Tanggung dek, udah sampe sini masa gak naek kesana..” ucap ayah saya. Karena jalan terus menanjak, sehingga putaran mesin saya harus terus saya tahan di tengah hingga atas agar motor mau diajak menanjak. Hal ini menyebabkan indicator radiator saya menyala 4 strip. Normalnya 3 strip. Ini artinya mesin sudah mulai overheat. Namun saya tidak perduli, toh begitu sampai atas pasti kami bakal berhenti lama di sana sehingga mesin kembali ‘adem’.
          Sesampainya di puncak satu, kami memarkirkan motor kami dipinggir, lalu kami harus menaiki sedikit anak tangga untuk benar-benar berada di atas karena memang di atas tersedia seperti semacam pos untuk orang bisa duduk dan beristirahat disana, sambil menikmati pemandangan gunung slamet dari jarak yang cukup dekat. “Wah keren ini pak pemandangannya..” ungkap pak Erwadi kepada ayah saya. Kami pun mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan. Pak Erwadi juga mengambil foto saya dan ayah saya.
          Ketika di sana, saya melihat ke arah dimana langit terhampar luas. Tidak ada gedung atau apapun. Saya benar-benar bisa melihat awan  kira-kira ratusan kilometer jaraknya. Di benak saya seketika berpikir, “mamah sama mbak lagi apa ya di rumah?” Karena saya sadar begitu jauh jarak saya dengan rumah. Dan apapun bisa saja terjadi ketika dalam perjalanan menuju pulang ke rumah. Saya justru ingin sekali segera pulang.
          Setelah sekitar 1  jam setengah kami duduk di puncak satu. Kami memutuskan untuk kembali turun ke daerah penginapan. Lalu selama melakukan perjalanan, kami sempat tersesat di jalur yang kami rasa di situ-situ saja. Rasa panik sempat muncul di dalam diri saya karena kami hanya bertiga di antara bukit-bukit yang benar-benar masih kental ‘hutan’nya. Sampailah kami melihat beberapa pedagang sayur yang sedang menaikan sayur-sayurnya ke dalam mobil losbak mereka. Lalu kami menghampiri mereka untuk meminta bantuan agar tidak tersesat. Lalu kami akhirnya berjalan mengikuti mobil mereka. Ternyata benar saja, ada jalur yang memang bisa disebut ‘blind spot’ Kami tidak ngeh kalau ada jalur kesana, pantas saja kami dari tadi hanya mondar-mandir disitu saja.
          Setelah sampai di daerah penginapan. Kami mengucapkan terima kasih kepada mereka karena sudah mau mengantarkan kami kembali ke ‘wilayah aman’. Setelah itu kami check in ke hotel kecil di sana untuk menginap selama semalam. Kami pun berisitirahat dengan cukup, karena keesokan harinya saya dan ayahnya harus mengantarkan pulang Pak Erwadi kembali ke rumahnya.
          Keesokan paginya, sekitar pukul 8 atau 9. Saya bangun kedua setelah Pak Erwadi. Lalu saya menyempatkan diri untuk mencuci motor saya dulu dengan ember yang tersedia di sana. Karena motor saya benar-benar tertutup debu dan pasir bekas perjalanan panjang selama dua hari terakhir. Begitu pula dengan ayah saya setelah ia bangun.

          Setelah itu kami kembali bersiap-siap untuk kembali melakukan perjalanan pulang. Kami check out dari hotel tersebut, lalu kembali tancap gas. Setelah beberapa jam perjalanan ke Kota Tegal, Pak Erwadi berhasil dengan selamat kami antar pulang ke depan pintu rumahnya. Tak berlama-lama di sana, kami langsung lanjut tancap gas pulang ke Tangerang. Jalan macet, gerimis, panas kami terjang saja terus. Karena saya dan ayah saya sudah ingin cepat-cepat pulang kerumah. Cukup pegal tangan dan panas bokong ini karena melakukan perjalanan di atas motor secara non-stop. Lalu kami sampai Jakarta sudah begitu malam. Karena seingat saya, kami sampai rumah itu sekitar jam 2 tengah malam. Sungguh melelahkan touring kami pada waktu itu. Entah di masa depan apakah saya ingin melakukannya lagi atau tidak.

Selasa, 06 Juni 2017

Final Assigment English Journalism - Group 3 - Class F

Women's being sexualy harrased while doing their daily activities using Commuter Line Train (KRL)

Sexual Harassment to women is a common case in the public. There are kinds of Sexual Harasment that occur in Indonesia, such as “Cat Call” where usually happens when there is a women who walks by and being flirted by some random man. And also rape of children.

The public seems to know this issue for a very long time, but they seem to chose to not worry about it that much.

But recently, people are starting to pay attention to this issue. Even the public looks increasingly angry with the emergence of the story of one of the witnesses of sexual harassment in the Commuter Line Train , or mostly known as KRL in Indonesia.

KRL is known as a very conventional public transport. People choose KRL for their daily activities because they don’t have to have some rough time on the road while driving their own car or motorcycle. But KRL is also very dangerous because it’s so crowded. It can trigger some criminalities to happen inside the KRL, such as pickpocketing and sexual harrasment.

The story that shared on social media, LINE, by Chrisna gets so many responses in a very short time. There are people who supports, and some even tell their personal experiences when abused in KRL.

This story becomes increasingly fells 'horror' when it is known that most sexual harassment is done by the SAME person. Because there is an evidence of photo captured by Chrisna when she witnessed the incident. So many respondents also admitted that they had been harassed by that person.

Quoted from a website, kumparan.com, Chrisna wrote in her LINE account, "When the train went toward the University of Pancasila, there was a woman who was so plump, standing  in front of the perpetrator. Lets just call him ‘Cepot’. Now this ‘cepot’ initially just touch his own penis towards the woman and maybe that woman starts to feel annoyed and all she can do is move to another place inside the KRL "

This can lead to a decrease in people's sense of comfort to KRL. As feared by Dani (21), one of the KRL users we interviewed at Rawa Buntu train station, South Tangerang (25/5/2017).

He said, "If this (sexual harassment) happens frequently, the public would feel uncomfortable and I’m afraid they start to get lazy to use KRL." He also believes that one of the efforts to prevent this incident is for the people themselves who must increase their self-awareness.

Fear and anxiety continue to haunt KRL users, especially women. As expressed by Elvida (19), a teenager that we also interviewed in Rawa Buntu Station. She said, "For me as a woman, it makes me wary and afraid everytime I use KRL, especially if I go alone."

She stated, that it might be better for womens to not to go anywhere with KRL by themselves. Because they wouldn’t know if the KRL is going to be crowded or not. If the train is crowded, then there might be chances that the harrasment might hapen.

She also appealed to PT.KAI to improve the guard in KRL. Although there is already a security guard in KRL, but the number is limited. And the people in there are not necessarily courageous to prevent when sexual harassment takes place.

Quoted from news.okezone.com, where the Coordinator of the Division of Community Participation Komnas Perempuan, Ratna Fitriani, said that efforts to eliminate sexual harassment in KRL is a bit impossible. Because this incident comes from the individual parties. Both the perpetrator or the victim.

Therefore, to prevent, Ratna said "We must do more prevention by not wearing minimal clothing or not dressing too excessive" she told okezone.

One other effort that has been done is with the holding of a special wagon only for women. But this effort does not seem to solve this sexual harrasment problem that much. Because there are still a lot of women who take the regular wagon. Even recently just appear a new problem where there was a fight between females fighting for seats in the women special wagon.

But it seems the public desire to voice about the case is not too prominent, because based on our survey that we did. Only about 2 out of 10 people are willing to voice the case, while others refuse to be interviewed by us.

One of the KRL security guards whom we met at Palmerah station, Jakarta even claimed not to know much about this. Because he himself said that if there is (victims of sexual harassment), they did not report to the KRL security itself.

“I can’t speak much about this (sexual harrasment in KRL) topic, because it’s not my authority." said the Head Station in Rawa Buntu, while being interviewed in his office.

This case doesn’t only occur in Indonesia. Other Asian countries like Japan, and China, also have the same case and still unresolved.